Suatu hari, saya menyuruh para siswa untuk menulis karangan dengan tema tertentu. Karena mengarang sesuai tema, saya mempersilakan mereka untuk membuka buku pelajaran lain sebagai rujukan. Setelah satu jam pelajaran berlalu, tugas menulis mereka masih belum selesai.


Sebagai blogger, saya akui bahwa menulis memang tidak mudah. Ada kalanya kehabisan ide. Ada kalanya kehabisan kata-kata. Bingung merangkai kalimat. Sulit mengungkapkan apa yang diinginkan. Menulis tidak lancar.

Tapi semenjak saya rajin membaca blog lain, ada motivasi tersendiri bagi saya untuk bisa menulis juga. Pada awal membaca blog Maniak Menulis yang semakin rajin update beberapa artikel setiap harinya, reaksi awal saya adalah senang karena banyak bacaan. Lama-lama, saya pun jadi ikut rajin juga menulis. Meski tidak semasive MM, saya coba posting setiap hari ketika mood sedang bagus.

Saat membaca cerpen di blog Sarilah, saya terhibur dengan cerita yang disuguhkannya. Lama-lama, saya pun berpikir untuk menulis cerpen juga.

Begitu pula hal yang saya rasakan saat membaca blog lainnya. Awalnya hanya senang membaca. Tapi setelahnya membangkitkan ide dan semangat untuk menulis.

Menulis memiliki ikatan yang sangat kuat dengan membaca. Sebelum bisa menulis seseorang harus bisa membaca. Orang yang rajin menulis, tentu banyak membaca.

Bukan berarti menulis di sini menciplak apa yang pernah ia baca. Tapi ketika seseorang banyak membaca, ia akan memperoleh wawasan baru, kemudian muncul ide dan gagasan baru untuk ditulis.

Oleh karenanya saya senang bila teman-teman blogger rajin mengupdate blog mereka. Bisa jadi itu adalah salah satu jalan saya juga rajin mengupdate blog saya. Namun semua kembali kepada diri sendiri, apakah saya memutuskan untuk semakin rajin membaca dan menulis atau memutuskan berdiam diri dan menjadi penonton.

Baca Juga