Kelebihan dan Kekurangan Terbang dengan Jet Star

January 17, 2018 2
Jet Star bukanlah pesawat maskapai penerbangan Indonesia. Tapi cukup terkenal bagi yang sering pergi ke Singapura. Mungkin karena Jet Star adalah maskapai luar negri. Alasan lainnya adalah karena tiket murah yang ditawarkannya.

Saya sendiri memilih terbang dengan Jet Star karena harga tiketnya yang murah. Sangat cocok bagi para backpacker karena harga tiket tanpa bagasi jauh lebih murah. Berhubung saya dan adik tidak sekedar mengincar tiket murah, maka kami tetap membayar untuk biaya bagasi supaya bisa bawa koper.

Karena saya memesan tiket melalui aplikasi Traveloka, semua pembayaran saya lakukan melalui aplikasi, termasuk tambahan biaya bagasi. Meskipun Traveloka menyediakan menu refund, ternyata pemesanan pesawat Jet Star tidak menyediakan fasilitas refund.

Kelebihan dan Kekurangan Terbang dengan Jet Star

Sebagaimana penerbangan ke luar negeri lainnya, kami harus melewati imigrasi terlebih dahulu. Antrian panjang bersama dengan penumpang lain yang kebanyakannya berangkat umroh. (Saya juga ingin berangkat umroh pada kesempatan selanjutnya).

Saya sempat merasa mual saat berada di pesawat. Mungkin karena cara terbangnya tidak mulus menurut saya. Saya sempat berdiri dan pergi ke toilet untuk muntah. Namun tidak ada yang saya keluarkan dan kembali ke tempat duduk. Jika dibandingkan dengan pesawat Lion Air yang sering saya tumpangi. Saya dapat dengan mantap berpendapat bahwa penerbangan dengan Lion Air lebih nyaman.

Di tengah perjalanan, pramugari membagikan kertas isian yang berguna nantinya saat memasuki pemeriksaan imigrasi di Singapura. Karena mual yang saya rasakan, kertas tersebut sempat tidak saya acuhkan dan disimpan saja. Saat merasa agak baikan, saya coba mengisi walaupun banyak terputus-putus.

Akhir 2015, saat berangkat ke Singapura juga, saya tidak memperoleh kertas isian ini saat terbang dengan Lion Air. Saat tiba di Changi Airport dan akan melewati imigrasi baru saya memperoleh kertas ini dan mengisinya di sana. Apakah ini kebijakan baru dari Singapura yang membagikan form ini di pesawat, atau kebijakan dari maskapi Jet Star, saya tidak tahu.

Setelah penerbangan yang melelahkan selama 1 jam 50 menit, akhirnya kami tiba di bandara Singapura. Sebelum mengambil bagasi, kami masih harus melewati ujian, yaitu antrian imigrasi yang sangat lama. Antirannya mengalahkan jemaah umroh saat di bandara Soekarno Hatta.

Demikianlah pengalaman saya terbang bersama Jet Star. Jika ditarik kesimpulan, inilah kelebihan dan kekurangan terbang bersama Jet Star

Kelebihan

- Harga tiket lebih murah
- Lebih hemat bagi yang tidak membawa bagasi (backpaker)
- Form isian imigrasi dapat langsung diisi di pesawat untuk menghemat waktu

Kekurangan

- Harus membayar biaya tambahan bagi yang ingin membawa bagasi
- Tidak bisa refund
- Penerbangannya kurang nyaman dan bisa menyebabkan mabuk bagi yang tidak terbiasa.

Apabila saya akan melakukan penerbangan lagi ke luar negri, mungkin saat akan mencoba memilih pesawat yang berbeda. Karena sepertinya saya lebih mengutamakan kenyamanan daripada sekedar harga murah.

Mengikuti Grup WhatsApp : JODOH

January 15, 2018 9
Selain program BISA, tempat saya mendalami Bahasa Arab, ada lagi sebuah grup WhatsApp yang saya ikuti yaitu JODOH.

JODOH yang dimaksud disini bukan mencari pasangan hidup ya, tapi Just One Day One Hadits (JODOH). Yaitu program untuk menghapal satu hadits setiap harinya. Program ini masih berafiliasi dengan program BISA yang saya ikuti.


Pada Level 1 ada 50 hadits yang harus dihapalkan dalam kurun waktu 2,5 bulan. Setiap pekannya ada 5 hadits yang dihapalkan. Termasuk arti hadist, periwayat hadits, dan derajat hadits tersebut. Juga ada penjelasan hadits dari Ustadz pembimbing Jodoh.

Selain mendapatkan ilmu dan pembelajaran, saya juga mendapatkan banyak teman dari program ini. Tidak hanya yang berada di berbagai wilayah Indonesia, bahkan ada anggota yang tinggal di USA.

Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan level 1 dan sekarang sudah mulai belajar di Level 2. Pada level ini ada 50 hadits lainnya yang harus kami hapalkan.

Mengikuti Grup WhatsApp : JODOH

Bagi yang ingin tahu lebih dalam mengenai program Jodoh, bisa mengunjungi situs resminya di www.programjodoh.com

Bagi saya yang memiliki waktu terbatas dalam menuntut ilmu, program ini sangat bagus sekali. Di tengah kesibukan bekerja, dengan fasilitas teknologi seperti aplikasi WA, saya masih bisa mendalami ilmu agama.

Beberapa fitur WhatApps yang sangat penting untuk mendukung program Jodoh diantaranya adalah:

- Grup WA

Peserta Jodoh tergabung dalam grup-grup WA untuk tempat berbagi materi dan setoran hadits.

- Emoji

Pesan berupa peraturan, list setoran, dan lainnya menjadi lebih menarik dan mudah dipahami dengan berbagai emoji yang ada di WA.

- Voice Note

Karena ini adalah grup hapalan, maka setoran hapalan biasanya dikirim dalam format voice note. Ini adalah fitur yang sangat penting dalam program ini.

- Share Media (File, Foto dan audio)

Meteri hapalan dibagikan dalam bentuk ebook pdf. File gambar untuk mempermudah hapalan dan audio penjelasan hadits merupakan materi yang dibagikan setiap hari.

Teknologi memang memiliki dua mata sisi, baik berupa manfaat maupun mudarat. Di sinilah manusia berperan dalam menentukan apa yang akan ia lakukan dengan teknologi di genggaman tangannya.

Bagi saya, kemajuan teknologi memang semestinya digunakan untuk kemaslahatan manusia. Meskipun saya tidak bisa menentukan kehidupan manusia lainnya, tapi saya bisa memutuskan apa yang saya lakukan dengan diri saya sendiri.

Maka saya memutuskan memanfaatkan kemajuan teknologi yang dalam hal ini adalah WA untuk kemaslahatan hidup saya.

Pengalaman Terbang dengan Citilink Banjarmasin - Jakarta

January 13, 2018 2
Dalam penerbangan yang sering saya lakukan, hampir semuanya menggunakan pesawat Lion Air. Mungkin karena harga tiket Lion Air lebih murah dan jadwal penerbangannya dari Banjarmasin lebih banyak. Tapi penerbangan kami kali ini, dari Banjarmasin ke Jakarta, menggunakan pesawat Citilink.

Meskipun tergolong maskapai baru, citylink cepat populer karena berada satu atap dengan Garuda Airlines. Kebetulan, kali ini saya memperoleh harga tiket Citilink yang murah dengan jadwal yang pas lewat aplikasi Traveloka. Maka kami memilih terbang dengan Citilink.

Kami berangkat dari rumah pagi hari, tapi tentunya setelah sarapan. Rencana awal ke bandara naik Grab atau Gocar dibatalkan, dan kami naik angkot saja ke bandara.


Proses chek in di Syamsudin Noor berjalan dengan lancar. Karena banyak memiliki waktu luang, saya bahkan sempat memprint tiket di rumah.

Alhamdulillah, pesawat take off sesuai dengan jadwal. Kami tidak mau terlambat karena mengikuti penerbangan selanjutnya dari Jakarta ke Singapura.
Meskipun ada pilihan paket penerbangan dari Banjarmasin ke Singapura di aplikasi Traveloka, saya memilih untuk membeli tiket terpisah. Alasan utamanya, tentu saja karena lebih murah.

Selama di pesawat, saya mempersilakan adik untuk duduk di samping jendela. Maklum, ini adalah perjalanannya yang kedua, setelah naik pesawat pertama kali 7 tahun yang lalu. Berbeda dengan saya yang setiap tahun naik pesawat.

Sebagaimana Lion Air, kami tidak memperoleh konsumsi dalam Citilink. Tentu saja ada makanan berbayar yang ditawarkan. Saya sendiri memilih untuk memejamkan mata selama perjalanan satu setengah jam.

Citilink rupanya maskapai yang cukup ramah terhadap pramugari. Karena saya lihat juga terdapat pramugari yang mengenakan kerudung. Bagi yang mau jadi pramugari dan tetap mempertahankan hijab, mungkin bisa memilih maskapai ini.

Kami tiba di bandara Soekarno Hatta sesuai jadwal. Secara umum, pengalaman terbang bersama Citilink tidak jauh berbeda dengan Lion Air selain ketepatan waktunya. Untuk perjalanan selanjutnya, pilihan pesawat saya sepertinya masih berdasarkan harga tiket termurah.

Gagal Naik Grab dan Gocar

January 10, 2018 6
Kini layanan Grab dan Gocar sudah tersedia di Kalimantan Selatan. Berhubung selama ini saya selalu naik sepeda motor untuk pergi kemana-mana, maka saya pun belum ada kesempatan untuk menggunakan layanan ini. Pagi itu, saya dan adik berencana untuk pergi ke bandara Syamsudin Noor. Agar mudah dalam membawa koper, kami pun berencanan untuk memesan Grab atau Gocar.

Dulu, saya biasa diantar Abah naik sepeda motor ke bandara. Setelah bekerja, saya biasa diantar mobil sekolah untuk ke bandara. Perjalanan kali ini agar sedikit berbeda, karena merupakan liburan mandiri yang kami rencanakan berdua. Saatnya mencoba sesuatu yang berbeda.

Saya sudah mendownload aplikasi Grab dan Gocar. Sudah registrasi juga supaya mudah melakukan pemesanan. Tapi saya tidak melakukan pengisian saldo, karena rencananya mau bayar tunai saja, meskipun mungkin lebih mahal.

Pukul 8 kurang saya mulai duduk di teras yang berhadapan dengan jalan. Kemudian mulailah melakukan pencarian taksi grab dengan tujuan bandara Syamsudin Noor. Tidak lupa menjadikan rumah saya sebagai lokasi awal. Setelah menunggu sekian menit, ternyata jawaban yang saya peroleh tidak sesuai harapan. Para Driver kami sedang sibuk.
Gagal Naik Grab dan Gocar
Saya tidak putus harapan. Karena itu juga menginstal dua aplikasi sekaligus. Saya pun membuka aplikasi Gocar dan melakukan pencarian dengan tujuan yang sama. Waktu pencarian yang dilakukan aplikasi Gocar lebih lama dari pada Grab. Walaupun setelah sekitar 5 menit menunggu, saya memperoleh jawaban yang sama. Semua driver kami sedang sibuk.

Waktu terus berlalu. Saya berkali-kali melakukan pencarian supir dengan kedua aplikasi tersebut. Tapi sepertinya tidak ada supir yang tersedia pada jam itu.

Ada berbagai kemungkinan yang muncul di benar kami. Mungkin para supirnya masih belum siap dan belum turun ke jalan. Mungkin juga para supirnya terlalu sibuk karena terlalu banyak pesanan. Atau mungkin karena lokasi rumah kami yang jauh dari kota. Yang pasti, jumlah armada grab dan gocar di tempat kami memang tidak sebanyak di kota besar.


Akhirnya, kami memutuskan untuk naik angkot saja. Terutama angkot arah Banjarmasin yang tentunya melewati bandara. Biasanya mereka bersedia saja belok sedikit dan masuk jalan ke arah bandara Syamsudin Noor. Meskipun tidak senyaman taksi, tapi kami bisa tiba di bandara tepat waktu.

Rencana awal kami untuk naik Grab atau Gocar gagal. Tapi rencana utama kami untuk pergi ke bandara tetap terlaksana. Saatnya liburan.

Mengapa Pageview Statistik Blogger dan Google Analitik Berbeda?

January 08, 2018 6
Saya bukanlah penggemar statistik. Apalagi pas di bangku kuliah, terlalu banyak analisis. Meskipun begitu, tidak serta merta saya bisa melepaskan diri dari yang namanya statistk. Bahkan saat menjadi blogger pun saya berhadapan dengan statistik.

Selama menjadi blogger saya suka dengan statistik blogger. Alasannya karena statistiknya sangat sederhana. Mudah dipahami bagi saya yang malas berpikir keras.

Satu tahun terakhir saya mulai mengenal Google Analitik. Entah kenapa saya mau berkenalan dengan statistik yang satu ini. Terlalu banyak tampilan dan angka-angka. Kadang saya bingung sendiri yang mana yang harus diperhatikan.

Dari berbagai aspek yang ditampilkan, ada satu pertanyaan mendasar yang muncul di benak saya.

Mengapa Pageview Statistik Blogger dan Google Analitik berbeda?

Saat Statistik Blogger menunjukkan pageview 10.000, Google Analitik hanya menunjukkan angka 3000. Tidak sampai setengahnya.

Mengapa Pageview Statistik Blogger dan Google Analitik Berbeda

Ini bukanlah pertanyaan yang bisa saya jawab hanya dengan berpikir keras atau mempelototi grafik. Saatnya bertanya pada mesin telusur dan membaca pendapat blogger lainnya.

Jujur saja, tidak banyak yang membahas hal ini. Mungkin karena artikelnya banyak yang tenggelam di halaman pencarian, atau blogger lain menganggap persoalan ini tidak penting untuk dibahas.

Tapi pertanyaan ini penting untuk menjawab rasa penasaran saya.

Jawaban yang saya peroleh menyatakan bahwa Statistik Blogger dan Google Analitik menggunakan parameter perhitungan yang berbeda, oleh karenanya hasil perhitungan pageview jadi berbeda.

Pada statistik blogger semua view dihitung. Baik hasil organik seperti dibuka manusia, maupun hasil perayapan robot dari mesin telusur dan lain sebagainya. Oleh karenanya artikel yang baru diposting kadang langsung terhitung ada viewnya. Padahal manusia mana yang membacanya jika bukan diri sendiri atau robot.

Berbeda dengan Google Analitik, pageview yang ditampilkan biasanya memang hasil aktivitas manusia sebenarnya. Bahkan terdapat analisis pengguna yang lengkap seperti datang dari mana, pakai kata kunci apa, bacanya berapa lama, setelah itu ngapain dan lain sebagainya. Semua ditampilkan baik dalam bentuk grafik maupun diagram.

Beda alat beda gunanya. Itulah perbedaan Statistik Blogger dan Google Analitik. Bagi yang ingin memahami statistik blog dengan baik untuk meningkatkan performa blog, sebaiknya gunakan Google Analitik. Tapi bagi yang tidak mau ribet dan hanya ingin sekedar tahu statistik blog meningkat atau tidak, cukup gunakan Statistik Blogger.

Meskipun ada perbedaan besar antara Statistik Blogger dan Google Analitik, tapi ada satu persamaan yang tidak akan berubah diantara keduanya. Ketika Statistik Blogger menunjukkan peningkatan, maka Google Analitik juga cenderung menunjukkan peningkatan, begitu pula sebaliknya.

Saya pribadi lebih senang melihat statistik blogger daripada Google Analitik. Alasan utamanya, karena angkanya lebih tinggi sehingga menyenangkan hati. Alasan lainnya karena saya malas mikir dan memilih yang simpel saja. Toh saya belum kepikiran langkah khusus sehubungan dengan hasil analisis yang menjelimet tersebut.

Setidaknya pertanyaan awal sudah terjawab. Mengapa pageview pada Statistik Blogger dan Google Analitik berbeda. Langkah selanjutnya dikembalikan kepada masing-masing blogger.

Ternyata Ada yang Tidak Mematikan Handphone di Pesawat

January 03, 2018 15
Topik pembicaraan kami saat makan malam kali ini adalah mode pesawat terbang yang ada di handphone android. Adik saya menanyakan apakah saya menggunakan mode pesawat atau tetap mematikan HP saat berada di pesawat.

Selama ini saya memilih selalu mematikan HP saat berada di pesawat. Pramugari selalu mengingatkan penumpang untuk mematikan HP. Selain itu di depan kursi juga tertera hukuman bagi penumpang yang menyalakan HP di pesawat. Meskipun ada mode pesawat, saya memilih berhati-hati dengan tetap mematikan HP. Better safe dan sorry.

Ibu saya pun juga ikut nimbrung dengan percakapan kami. Beliau juga tak pernah menggunakan HP saat berada di pesawat, karena tahu bahwa hal tersebut berbahaya. Makanya, biasanya setelah selesai menelpon dan memberitakan bahwa beliau berada di pesawat, beliau segera mengakhiri panggilan dan menyimpan HP.

Berbeda dengan anak muda yang biasa pake HP android, Mama hanya menggunakan HP biasa dan bukan layar sentuh. Sehingga tak ada mode pesawat pada HP tersebut, walaupun ada mode offline, tapi tetap saja Mama tidak mengerti.

Ternyata Ada yang Tidak Mematikan Handphone di Pesawat

Nah, entah bagaimana alur pembicaraan kami, terungkap sesuatu yang cukup mengejutkan bagi saya dan adik. Saat ditanya bagaimana cara mematikan HP, dengan ringan mama menjawab bahwa mengakhiri panggilan, kemudian menyimpannya dan tidak menggunakannya.

Dengan kata lain, dalam 6 kali penerbangan yang pernah mama saya lakukan, Mama yang telah berusia 53 tahun tidak pernah benar-benar mematikan Handphone di pesawat sama sekali.

Rupanya, Mama tidak tahu bahwa yang dimaksud dengan mematikan HP adalah sampai Handphone tersebut layarnya benar-benar mati dan ketika ditekan tombol apapun, layarnya tetap mati. Selain itu HP yang dimatikan tidak dapat dihubungi.

Selama ini beliau berpikir yang dimaksud dengan mematikan HP adalah tidak menggunakan HP selama di pesawat dan cukup menyimpannya.

Saya dan adik bersyukur di dalam hati bahwa selama ini Allah masih melindungi orang tua kami. Kata adik saya, pilot pesawat yang ditumpangi mama lumayan handal karena tidak terganggu dengan sebuah handphone yang tidak dimatikan. Tapi alasan utamanya adalah doa Mama yang tak pernah putus dan perlindungan dari Allah SWT.

Menurut Mama, bukan hanya beliau yang tidak paham cara mematikan HP, tapi almarhum Abah juga. Mungkin ini juga termasuk kelalaian kami yang tidak pernah benar-benar mengajarkan cara mematikan HP kepada kedua orang tua kami.

Walaupun selama ini Mama tidak pernah mematikan HP di pesawat, bukan berarti beliau tidak suka menaati peraturan. Karena merasa sudah mematikan HP, makanya selama ini beliau tenang-tenang saja.

Malam itu, Mama pun belajar dan memastikan bagaimana cara mematikan HP yang benar. Untuk penerbangan selanjutnya beliau akan benar-benar mematikan HP. Bila perlu mengingatkan keluarga sebaya beliau yang bisa jadi, juga tidak tahu cara mematikan HP yang benar.

Tidak mematikan HP di pesawat memang tidak serta merta langsung membahayakan penerbangan. Tapi sinyal Handphone bisa mengganggu komunikasi pilot berupa suara bising. Jika ada banyak HP yang menyala, maka suara bisingnya akan semakin besar, dan tentu jadinya berbahaya.

Mematikan HP di pesawat bukan sekedar menaati peraturan, tapi bentuk kepedulian terhadap keselamatan orang lain. Musibah dan keselamatan memang di tangan Allah, tapi kewajiban manusialah untuk berikhtiar.

Ditegur Adsense, Perbaiki Dulu, Jangan Langsung Banding

January 01, 2018 11
Alkisah seorang penguasa pergi mengunjungi rumah tahanan. Ia pun bertemu para tahanan yang ada di sana. Penguasa itu pun bertanya kepada salah seorang tahanan. Apa yang menyebabkan ia masuk penjara.

Tahanan itu menyatakan bahwa ia tidak pernah berbuat kesalahan. Ia pun meminta penguasa tersebut untuk membebaskannya.

Penguasa tersebut juga menanyakan hal yang sama kepada tahanan yang lainnya. Jawaban yang diberikan tahanan lainnya hampir serupa.

Tapi tahanan yang terakhir memberikan jawaban yang berbeda. Tahanan tersebut mengaku telah berbuat kesalahan. Oleh karena itulah sekarang ia menjalani hukuman.

Sang penguasa kemudian memerintahkan kepada penjaga tahanan agar membebaskan tahanan yang terakhir.

Maka para tahanan yang lain pun protes dan bertanya. Apa alasan penguasa membebaskan tahanan terakhir tersebut.

Sang penguasa mengatakan, bahwa tahanan terakhir sadar dan mengakui kesalahan yang telah ia perbuat. Itulah tanda orang yang telah bertaubat. Sedangkan para tahanan yang lain tidak mau mengakui kesalahan yang telah mereka berbuat sendiri.

Cerita di atas saya ambil dari salah buku pelajaran kami di sekolah. 
Lalu apa hubungannya dengan Google Adsense?

Sebagai salah satu publisher adsense, saya juga tergabung dalam komunitas sesama publisher. Dalam komunitas tersebut banyak terdapat berbagai keluhan seputar adsense. Diantaranya yaitu dollar kuning, iklan tidak muncul, suspend, sampai banned.

Kebanyakan dari mereka mengatakan, saya tidak melakukan kesalahan apapun.

Pada saat menerima teguran dari adsesne, biasanya member yang lain mengusulkan untuk segera mengajukan banding. Tapi sepertinya jarang sekali yang mau memperhatikan di mana salahnya, kemudian melakukan perbaikan.

Sebagai publisher adsense, saya pribadi tidak luput dari kesalahan. Pernah dapat email teguran. Pernah situsnya dibanned. Alhamdulillah akun adsensenya masih bertahan.

Maka sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang mau mengakui kesalahan kemudian melakukan perbaikan diri.

Biasanya tipikal teguran untuk blog kurang lebihnya mengatakan bahwa ada artikel yang melanggar TOS, sedikit penjelasan, kemudian diberikan contoh URL nya.

Di sini saya beri garis tebal, yaitu contoh. Dengan kata lain, bisa jadi ada artikel lain yang juga melanggar TOS namun tidak disebutkan URL nya.

Dulu saya dapat teguran perihal artikel tentang cara download video dari Youtube. Waktu itu belum ada menu download untuk Youtube. Dan tentu saja, Google sebagai pemilik Youtube tidak suka videonya didownload. Saya sebagai publisher adsense mendapat teguran perihal artikel tersebut. Walaupun saya tidak tahu TOS yang mana yang saya langgar, saya pun menurut saja.

Karena sadar bahwa artikel tersebut tidak dapat diperbaiki, maka meskipun berat, artikel tersebut saya hapus. Padahal artikel tersebut adalah penyumbang pageview terbanyak untuk blog saya pada saat itu.

Waktu itu hanya satu URL yang dilampirkan dalam email. Tapi saya memiliki beberapa artikel perihal download dari Youtube. Karena saya memahami esensi dari teguran tersebut. Semua artikel tentang download video dari Youtube, meski URLnya tidak dicantumkan dalam email, semuanya saya hapus.

Setelah saya yakin blog sudah bersih, baru saya mengirimkan balasan, bahwa pembersihan telah saya lakukan. Alhamdulillah, semua pun kembali baik seperti semula.

Adapun kasus situs yang sempat dibanned, diantaranya karena saya jarang buka email. Saat saya membuka email, tenggang waktu tiga hari untuk perbaikan telah lewat. Saya pun terpaksa merelakan blog tersebut. Meskipun mengajukan banding, namun ditolak. Saya sadar akan kelalaian saya sendiri. Sejak saat itu saya rajin membuka email. Takutnya ada email penting yang terlewat.

Akhir-akhir ini, yang sering dapat teguran adalah youtube. Istilah yang sering saya baca adalah dollar kuning. Kebanyakan publisher tidak mau mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat. Yang ada malah mencari jalan agar sesuatu yang dinilai melanggar jadi dianggap baik. Apakah hanya mengganti kata FINAL menjadi F1N4L sudah merupakan perbaikan?

Adsense adalah bisnis yang dikelola oleh manusia. Yang kadang bisa capek juga geregetan. Maka bisa jadi para publisher yang sering ngeyel tidak lagi dapat teguran. Tapi langsung pemutusan hubungan.

Maka saran saya jika dapat teguran dari adsense, hapus konten yang bermasalah. Itu adalah cara yang paling aman. Atau paling tidak jangan melakukan monetisasi pada konten tersebut. Karena sia-sia saja memperbaikinya. Bagaimana mau memperbaiki, jika memahami letak kesalahannya saja tidak mampu.

Jika mendapat teguran, maka cobalah memperbaiki diri. Jangan menyalahkan orang yang menegur. Atau membandingkan diri dengan orang lain yang tidak ditegur.

Ditegur tandanya sayang. Tidak ditegur bukan berarti tidak salah. Mungkin saja karena tidak diperhatikan. Bisa jadi tindakan yang diperolehnya di masa depan lebih menyakitkan.

Ah, jadi panjang saja artikel ini. Intinya adalah sesuai dengan judul, saat menerima teguran dari Google Adsense, jangan langsung banding saja, tapi perbaiki dulu dimana kesalahannya.

Salam sukses untuk semua publisher.