Pengalaman Ikut Tes Bahasa Arab TOAFL

Salah seorang teman saya adalah seorang dosen pada sebuah perguruan tinggi swasta program studi Bahasa Arab. Kebetulan, lokasinya dekat dengan sekolah tempat saya mengajar. Dia mengajak saya untuk mengikuti tes TOAFL (Test of Arabic as Foreign Language). Kampus tempatnya mengajar mengadakan tes tersebut untuk para mahasiswa. Dia juga mengikuti tes tersebut. Berhubung dia tahu bahwa saya juga menyukai Bahasa Arab, maka ia pun mengajak saya.


Sebenarnya saya tidak ada tujuan khusus terhadap tes TOAFL ini. Hanya saja saya penasaran ingin tahu tentang kemampuan Bahasa Arab yang saya miliki. Adapun kemampuan Bahasa Inggris, dua tahun yang lalu saya pernah mengikuti tes TOEFL. Sedikit banyak sudah ada gambaran. Dengan pertimbangan ini, saya pun setuju untuk ikut tes TOAFL bersamanya. Tentu saja saya tetap harus bayar, apalagi saya bukan mahasiswa di kampusnya.

Hari Minggu, saya tiba sepuluh menit sebelum waktu tes. Sangat mepet sekali memang. Kebanyakan peserta lain sudah hadir di ruangan. Panitia tes sedang melakukan uji sound system. Saya memilih duduk di bagian tengah di samping teman saya. Suara dari sound system terdengar jelas dari semua sudut sampai belakang. Hanya naratornya saja yang menurut saya ngomongnya agak cepat. Dalm hati saya berkata, bisa ngga sih ngomongnga agak pelan biar saya mengerti apa yang diomongin.

Seperti biasa, sebelum tes dimulai, para peserta yang berjumlah sekitar 50 orang diminta untul mematikan alat komunikasi. Hanya alat tulis yang diperkenankan ada di atas meja. Lebih tepatnya bangku kuliah dengan meja kecil di atasnya. Setiap peserta duduk terpisah.

Panitia membagikan lembar jawaban. Saya mengisi identitas berupa nama, ttl, dan tanggal pelaksanaan dibagian atas. Ketika melihat format lembar jawaban, kening saya agak berkerut. Mengapa ada sepuluh nomor jawaban berupa isian. Saya pikir semuanya pilihan ganda.

Panita pun menjelaskan bahwa tes TOAFL terdiri dari tiga bagian, yaitu mendengarkan, tata bahasa, dan memahami bacaan. Lembar soal untuk bagian pertama dibagikan. Hanya ada pilihan jawaban pada paket yang kami terima.

Istima'

Pada bagian istima'(mendengarkan) sepuluh soal pertama adalah menulis pernyataan yang kami dengar. Bisa berupa kata ataupun kalimat. Dalam istilah bahasa Arab disibut dengan imla. 

Setelah itu, audio pun mulai terdengar. Semua dalam bahasa Arab, termasuk instruksinya. Ketika mendengar kata pertama untuk soal nomor satu, saya terpana. Tadi audio nya bilang apa? Pengucapannya hanya sekali tanpa pengulangan. Setelah jeda sebentar, kemudian beralih ke nomor dua dan seterusnya.

Dari sepuluh soal, mungkin hanya dua soal yang tetdengar jelas bagi saya. Sisanya entah apa yang saya tulis di lembar jawaban. Setidaknya tidak ada pengurangan nilai untuk jawaban salah.

Setelah bagian imla selesai, berikutnya hanya tersisa soal pilihan ganda. Kami menyimak audio percakapan, kemudian dilanjutkan dengan soal. Pilihan jawabannya ada di paket soal. Tentu saja kami tidak diperkenankan mencoret paket soal. Pilihan jawaban langsung ditulis di lembar jawaban.

Beberapa soal pertama berupa dialog. Soal berikutnya berupa teks narasi. Kemuadian soal yang berhubungan dengan teks tersebut. Kadang saat mendengar narasi, saya mencoba memahami sedikit. Tapi saat mendengar soal dan melihat pilihan jawaban, saya sudah lupa dengan apa yang baru saya dengar. Hingga semua soal istima' berakhir saya cuma bisa pasrah.

Tata Bahasa

Bagian dua dan tiga adalah soal tertulis. Setiap perserta memperoleh paket soal. Ada beberapa paket soal yang dibagikan. Tentu saja paket soal yang saya terima berbeda dengan peserta di samping saya. Jangan berharap untuk menyontek. Peserta diminta menulis nomor paket soal di lembar jawaban untuk penilaian nanti.

Saya berharap bisa lebih maksimal di bagian tertulis. Hanya saja bagian tata bahasa terdiri dari 40 soal dan harus dijawab dalam waktu 25 menit. Artinya saya hanya punya waktu setengah menit untuk menjawab pertanyaan. Meski begitu saya tetap membaca soal dan menulis jawaban dengan teliti. Setidaknya saya pernah belajar bahasa Arab di sekolah. Pernah juga ikut kursus online. Meski saya bukan mahasiswa jurusan Bahasa Arab.

Dari sekian soal, beberapa bisa saya jawab dengan yakin. Beberapa asal tebak saja, dan sepertinya lebih banyak begitu. Tiba tiba panitia mengatakan waktu untuk menjawab soal tata bahasa tinggal 5 menit lagi. Ada belasan soal yang belum saya baca. Haruskan dijawab sembarang saja? Tapi rasanya kok sayang. Setidaknya pada bagian tata bahasa ini saya memiliki sedikit harapan. Jika diberi kesempatan berpikir, beberapa soal bisa diatasi. Tapi waktunya benar-benar terbatas. 

Waktunya habis dan kami dipersilahkan menjawab soal memahami teks. Paket soalnya masih satu kesatuan dengan soal tata bahasa. Saya memutuskan menyelesaikan soal tata bahasa terlebih dulu.

Memahami Bacaan

Bagian pemahaman teks terdiri dari 50 soal. Waktunya 55 menit. Sesuai pengalaman TOEFL saya putuskan membaca soalnya dulu, baru melihat teks bacaan dengan demikian bisa menyingkat waktu. Baru menjawab belasan soal, saya sudah bertemu teks bacaan yang begitu panjang. Rasanya saya sakit kepala.

Berada dalam ruangan tersebut, yang saya pikirkan adalah, teks bahasa Arab yang tidak saya pahami, soal yang harus dijawab, dan waktu yang terbatas. Kenapa pula saya memutuskan untuk menyiksa diri sendiri dengan tes ini. Boleh nyerah aja ngga? 

Tapi jika ingat dengan uang yang sudah dibayar dan tujuan tes ini yang sekedar ingin menilai kemampuan diri, tentu saya harus menyelesaikannya. Toh tak ada target nilai yang harus saya capai. Saya menarik nafas dalam dan bersikap lebih tenang.

Yang paling saya tidak suka adalah diburu waktu. Sedangkan waktu memang terbatas dan saya harus menyelesaikan semua soal dihadapan saya. Saya pun melakukan sesuatu yang sering saya lakukan saat menghadapi sebuah buku yang harus diselesaikan tapi tidak menarik. Yaitu membacanya dari halaman belakang.

Saya pun melanjutkan menjawab soal dari nomor 50 ke nomor depan. Ketika ada soal yang terlalu sulit bahkan untuk ditebak, jawab sembarang saja. Tak usah berpikir lama yang hanya akan membuang waktu percuma. Akhirnya 5 menit sebelum waktu berakhir saya selesai menjawab semua soal. Jangan tanya bagaimana jawabannya, saya sudah tak bisa lagi berpikir.

Ketika waktu habis, panitia mempersilakan semha peserta meninggalkan ruangan lembar jawaban dan soal ditinggalkan di atas meja masing-masing.

Rasanya lega sekali keluar dari ruangan. Saya sudah tidak peduli dengan nilai yang akan saya peroleh. Teman saya bertanya apakah saya mau ikut tes lagi minggu depan. Rencananya akan diadakan tes lagi untuk para guru. Serta merta saya langsung menolak. Saya baru bebas dari soal yang memusingkan tersebut. Untuk apa menyiksa diri sendiri dengan mengikuti tes lagi minggu depan.

TOAFL dan TOEFL

Jika membandingkan tes TOEFL dan TOAFL, menurut saya hampir sama saja. Penyajian dan tingkat kesulitannya mungkin tak jauh beda. Yang berbeda adalah kemampuan bahasa yang saya miliki. Dibandingkan Bahasa Inggris, Bahasa Arab saya memang payah. Makanya saya merasa lebih tertekan.

Padahal jika saya mempersiapkan diri lebih baik dengan mempelajari contoh soal TOAFL, mungkin saya bisa memperoleh nilai yang lebih tinggi. Namun yang saya inginkan dari tes TOAFL kali ini bukan nilai yang tinggi, tapi nilai yang menunjukkan posisi kemampuan Bahasa Arab saya saat ini. Saya tidak punya bayangan dan gambaran sama sekali.

Meskipun sakit kepala saat menjawab soal, saya senang bisa menyelesaikan tes. Tinggal menunggu, berapa nilai yang akan saya peroleh.

Apa kamu pernah ikut tes TOAFL atau TOEFL? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya.

2 comments

  1. Saya belum pernah ikut tes TOAFL atau TOEFL Bu guru, maklum tidak suka mengerjakan tes, pusing soalnya.😂

    Beruntung Bu guru sudah pernah ikut TOEFL jadinya ikut TOAFL ini tidak terlalu bingung karena sudah ada pengalaman sebelumnya ya Bu.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Agus beruntung ngga pernah ikuy tes, jadi ngga perlu ikut pusing wkwk 😂

      Meskipun pernah ikut toefl tetap aja toafl itu susah, bahasanya beda.

      Delete

Silakan tingggalkan tanggapan dan pendapatmu pada kolom komentar
EmoticonEmoticon