Kesan Pertama Membaca Cerpen di Blog Sarilah

Dalam perkara hiburan, saya suka main game, menonton, dan membaca. Terakhir, saya suka blogging. Dalam urusan membaca, saya suka membaca novel, manga, dan webtoon. Saat ini jarang sekali saya membaca cerpen.

Dibandingkan dengan membaca novel, tentu membaca cerpen membutuhkan waktu yang lebih sedikit. Tapi entah mengapa, saya belum tertarik untuk mulai membaca cerpen. Mungkin karena saya lebih suka dengan plot yang lebih menarik yang bisa saya temui saat membaca novel yang panjang.


Sampai akhirnya saya membaca artikel di Maniak Menulis yang berjudul "Linky : Blog Cerpen Untuk Hiburan". Saya pun mencoba mengunjungi beberapa situs yang direkomendasikan. Situs pertama yang saya kunjungi adalah Blog Sarilah. Mungkin karena yang punya blog menulis komentar di artikel tersebut.


Saat saya kunjungi, artikel terbaru saat itu sebuah cerpen dengan tag horror. Tanpa perlu menengoknya, artikel tersebut langsung saya skip. Maaf, saya tak mau berhubungan dengan sesuatu yang horror meski sekedar hiburan.

Cerpen pertama yang saya baca berjudul "Keuntungan Punya Isteri Bersuara Nyaring". Saya pun membaca sebagaimana saya membaca biasanya. Tidak terlalu antusias, namun mencoba menikmatinya. Sampai saya sampai pada paragraf berikut :

Hal ini mungkin mirip juga dengan ibu kost tempat ia ngontrak. Induk semang nya beberapa kali kadang suka ngomel kalo ada berita tentang penyanyi yang dijuluki raja dangdut itu tapi anehnya ia kadang suka memutar lagu-lagunya. Pernah suatu kali Agus iseng bertanya mengapa sebal padanya, apakah karena politik. Oh ternyata bukan. Ia suka kawin cerai, begitu alasannya.

Cara penulis menyampaikan sesuatu yang bernilai ironi bagi saya cukup menghibur. Setidaknya saya memutuskan bahwa saya suka gaya bahasa penulis ini.

Selanjutnya, saya membaca cerpen berjudul "Menawar Nazar yang Dibuatnya Sendiri." Tentu saja isi ceritanya tentang seseorang yang bernazar namun kemudian diakhir mengakali nazarnya sendiri. Salah satu komentar bertanya, apakah akhirnya tokoh utama mendapat azab. Tentu saja bagian ini tidak diceritakan dalam cerpen tersebut.

Yang membuatnya menarik bagi saya, adalah ketika cerita ini berakhir dengan perbuatan si Udin sang tokoh utama yang mengakali nazarnya. Tak ada cerita azab seperti di FTV. Meski begitu, sesungguhnya cerpen ini telah menyampaikan nilai yang memang ingin disampaikannya.

Dalam segi gaya bahasa dan penyampaian cerita kedua cerpen tersebut telah menarik perhatian saya. Jujur saja, saya punya ekspektasi tinggi untuk cerita fiksi berbahasa Indonesia. Novel bacaan saya biasanya karya Tere Liye. Pernah suatu ketika beli novel yang katanya banyak dibaca di Whatspad. Namun ternyata bahasa dan temanya tidak sesuai selera saya. Akhirnya novel tersebut tak habis saya baca.

Selama ini saya biasa baca novel terjemahan online di internet. Novel terjemahan yang biasa saya baca berbahasa Inggris. Saya tak punya ekspektasi terhadap bahasanya. Jika ceritanya tidak menarik, saya bisa berhenti dan pindah ke novel lain.

Baru kali ini saya kembali membaca cerpen dan menemukan penulis yang bahasanya enak bagi saya. Inilah kesan pertama yang saya rasakan saat membaca cerpen di Blog Sarilah. Sepertinya, sekarang saya punya rujukan situs baru untuk dibaca selain novel dan manga.

11 comments

  1. Saya juga sering mampir ke blog diatas. Memang judulnya panjang tapi menggelitik. Ceritanya menghibur. Saya kadang berpikir, mungkin sebaiknya dikirimkan ke penerbit saja ya? Bagus kok...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ceritanya menghibur untuk mengisi waktu luang. Mungkin adminnya belum pede buat dikirim ke penerbit. Tapi menulis si blog memang lebih bebas sih. Lebih mudah ditemukan oleh pembaca seperti saya, hehe

      Delete
  2. 👏👏👏👏🤣🤣🤣🤣

    Bu guru terkesima dengan si sableng ..tapi memang menarik tuh juragan bang pepet dan mbak kun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas sarannya, Pak. Kini saya punya rujukan buat baca cerpen.

      Delete
    2. Hahaha, mas Agus dapat julukan baru "juragan bang pepet dan mbak Kun.. hahaha

      Delete
  3. Saya jadi malu blog saya dijadikan rujukan oleh Bu guru. Semoga saja bisa menghibur ya Bu. Sukses juga buat Bu guru.

    Itu saja ah, ngga berani ngomong panjang lebar soalnya saya juga masih pemula dalam menulis cerpen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blog nya memang bagus kok. Saya suka baca cerpennya. Kadang saya berharap juga bisa menulis seperti itu.

      Delete
  4. Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda..hihihi

    Cerpennya mas Agus hanya genrenya saja yang horor pas dibaca malah jadi humor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih menata hati untuk baca cerpen yang ada kata-kata horror nya. Meskipun dibilang humor. Apalagi saat lihat gambar nya. Bikin saya ngga berani ngeklik.

      Delete
  5. Mba Nisa sama seperti saya, nggak berani baca yang horror. Tapi memang cerpen mas Agus bagus bagus yang bukan horror, mba. Kadang ceritanya sederhana namun ada pesan yang bisa dipetik daripadanya. Nggak heran kalau cerpen beliau banyak fans-nya hehehehe 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada teman yang ngga suka horror 😅
      Cerita yang sederhana kadang lebih mengena. Apalagi jika disampaikan dengan baik.

      Delete

Silakan tingggalkan tanggapan dan pendapatmu pada kolom komentar
EmoticonEmoticon