Haruskah Menghapus Artikel Lama yang Memalukan?

Seseorang pernah berkata, jika tak ingin tulisannya dicopas, jangan dipublish ke internet. Resiko tersebut pasti ada. Bagi saya pribadi kejadian copas tetaplah salah yang ngopas. Setiap penulis berhak mempublish tulisannya, sedangkan copaser memang berada di luar kuasa penulis. Orang salah mah, salah aja.


Di tempat lain, ada yang ngomong, kalo ngga mau dibaca, jangan dipublish. Nah, yang ini saya agak susah mendebatnya. Logika saya, kalo memang tak mau tulisannya dibaca khalayak ramai, ya jangan dipublikasikan ke umum. Kalau pun ingin menulis juga, cukup di private saja.

Kadang inilah saya saya rasakan terhadap berbagai tulisan lama saya. Beberapa di antaranya sudah tidak relevan. Beberapa yang lain adalah diary yang bikin malu kalau dibaca orang lain.

Terkait soal diary, pertama kali kenal dengan blog, saya memperlakukannya seperti diary online. Cerita yang saya tulis tidak banyak filter. Seakan sedang bercerita dengan teman dekat.

Beberapa tahun kemudian, saat membaca kembali berbagai tulisan tersebut, saya pun langsung berpikir, dulu saya begini, ya. Ih, yang beginian kok ditulis. Kadang saya pun senyum-senyum sendiri saat membacanya.

Secara umum, saya yak pernah menyesal menuliskan berbagai pengalaman tersebut. Hanya saja sekarang saya mulai berpikir, patutkah semua hal tersebut dipublikasikan secara umum di internet. Atau cukup diketahui saya seorang.

Dulu waktu pertama kali ngeblog, saya berpikirnya simpel. Sebagai orang biasa yang tidak terkenal, siapa pula yang mau baca blog saya. Maka saya pun bebas sebebas bebasnya untuk menulis artikel dan curhat di blog.

Sekarang, beberapa tahun kemudian, akses internet semakin mudah. Kemungkinan orang lain nyangkut ke tulisan kita selalu ada. Angkanya saja yang beragam. Maka berbagai tulisan memalukan tersebut punya kesempatan untuk dibaca oleh orang lain.

Sebenarnya ngga terlalu memalukan juga sih. Jika dibaca oleh orang lain yang tidak dikenal di dunia maya, tak ada masalah. Kadang yang bikin malu, ketika ada kenalan yang nyangkut di situ.

Dulu, saat menulis di artikel, saya masih jujur menulis nama orang yang bersangkutan. Tapi untungnya perkara baik saja. Yang agak sensitif, nama disamarkan.

Hanya saja kalau dibaca sekarang, beberapa persis kaya curhat orang yang suka update status di dinding Facebook. Bikin saya malu sendiri, tapi tidak berlebihan juga sih.

Saat ini, saya berencana untuk menghidupkan kembali blog tersebut. Dengan adanya artikel baru, kesempatan berbagai artikel lama tersebut untuk muncul ke permukaan akan bertambah besar. Maka saya pun bertanya-tanya. 

Apa yang harus saya lakukan terhadap artikel lama tersebut? Haruskah saya menghapusnya?

2 comments

  1. Kalau nggak nyaman hapus saja Nisa 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, pak. Ada yang saya hapus, ada yang diedit dikit. Tapi ngga semua juga. Soalnya ngga sempet baca satu-satu. Sisanya dibiarin aja.

      Delete

Silakan tingggalkan tanggapan dan pendapatmu pada kolom komentar
EmoticonEmoticon