Membuat Video Kurang dari Lima Menit

Saya teringat salah satu artikel di Maniak Menulis di mana Pak Anton pernah menulis sebuah artikel hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Untuk ukuran menulis, tentu saja itu termasuk cepat. Saya pribadi belum pernah melakukannya. Atau lebih tepatnya, saya tidak pernah menghitung lamanya waktu yang saya gunakan untuk menulis sebuah artikel.

Bagi saya, menulis artikel adalah menumpahkan apa yang ada dalam pikiran saya. Saya tak pernah melihat jam untuk memperhatikan kapan saya mulai menulis. Selesai menulis pun, kadang saya berlanjut menulis artikel selanjutnya jika masih ada ide lain. Ada kalanya saya mulai mencari dan mengedit foto untuk pelengkap artikel. Pada dasarnya, saya tidak memperhatikan waktu untuk menulis.

Meski begitu, sesuatu yang tidak saya perhatikan, bisa menjadi perhatian dan bahan tulisan bagi blogger lain. Saya jadi terpapar ide tersebut karena menjadi pembaca. Tapi bukan berarti saya ikut-ikutan menghitung waktu yang saya gunakan untuk menulis artikel.

Beberapa hari yang lalu saya membuat video pertama untuk channel Mari Ngenet. Karena persiapan seadanya, saya hanya menggunakan aplikasi rekam layar dan berbicara sesuai apa yang ada dalam pikiran saya. Ketika habis bahan pembicaraan, saya pun menekan tombol berhenti.

Kemudian saya kembali membuat video lain berdasarkan ide yang ada. Dalam waktu singkat saya bisa menyelesaikan tiga buah video. Video kedua dan ketiga durasinya lebih lama. Mungkin karena saya sudah mulai lancar berbicara.

Berhubung saya hanya pembuat video amatir, ketiga video tersebut saya upload tanpa proses editing sama sekali. Saat itulah saya memperhatikan video pertama yang durasinya tak sampai lima menit.

Jika dipikir-pikir kembali, bukankah artinya saya bisa menghasilkan satu video selama kurang dari lima menit. Jika dengan tempo demikian, ada berapa video yang bisa saya hasilkan setiap hari. Kesannya membuat video jadi mudah sekali.

Tapi tentu saja, saya tahu bahwa video yang dihasilkan dalam waktu lima menit berbeda dengan video yang dihasilkan lewat proses rekaman dan editing yang panjang. Menskipun akhirnya video yang dihasilkan sama-sama berdurasi lima menit.

Kalo ingin mengambil contoh ekstrem, bandingkan kualitas video tangkapan layar semata tanda editing dengan video klip lagu Lathi. Tentu perbandingannya seperti bumi dan langit.

Saya harus mengakui bahwa video yang baik tentu melalui proses yang panjang dan serius. Tapi saya juga ingin mengatakan bahwa untuk sekedar membuat video, tidak mesti melewati semua proses itu.

Buat seseorang yang tidak mahir editing seperti saya, video rekaman saja sudah cukup. Setidaknya saya sudah mematahkan pernyataan tidak bisa mengedit video sebagai alasan tidak bisa membuat video.

Membuat channel baru adalah pengalaman baru bagi saya. Menariknya, saya bisa menjadikannya sebagai bahan tulisan di blog ini.

2 comments

  1. Upsss.... keren tapi. Memang kenyataannya membuat video itu sekarang mudah kok Nisa.

    Yang susah itu membuat video yang bisa menarik datangnya pengunjung atau video yang sesuai dengan ide kita, butuh banyak penyuntingan.. hahaha

    Maaf jadi terpapar..wkwkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan membuat video yang bisa menarik pengunjung. Video yang sesuai keinginan saja masih perlu editing.

      Saya sempat menginstal aplikasi untuk mengedit video. Sayangnya saya masih kurang sabar. Untuk saat ini, cukuplah video rekaman layar saja.

      Delete

Silakan tingggalkan tanggapan dan pendapatmu pada kolom komentar
EmoticonEmoticon