5 Alasan Keluar dari Grup WhatsApp

5 Alasan Keluar dari Grup WhatsApp
Pagi-pagi, saya mendapat pesan WhatsApp dari salah satu teman di kantor.

 "Kamu keluar dari grup ya?" begitu isi pesannya.

Saya pun segera memeriksa grup WA. Apa jangan-jangan HP saya error dan keluar sendiri dari grup WA tanpa disadari. 


Setelah saya lihat di grup, ternyata salah seorang anggota yang juga bernama Khairunnisa berpamitan kemudian keluar dari grup. Namanya juga nama pasaran, bukan cuma sama dengan nama siswi, nama pegawai yang lain pun juga ada.

Saya pun segera membalas pesan WA teman saya dan menjelaskan bahwa itu adalah orang lain yang namanya sama.

Di tempat kerja, ternyata ada dua orang lagi yang bertanya langsung kepada saya. Untuk konfirmasi apakah saya yang keluar dari grup atau bukan. Saya pun memberikan jawaban yang sama.

Demikianlah grup WA. Ketika ada anggota yang keluar, akan langsung terlihat oleh semua anggota yang lain. Beberapa anggota pun akan heboh dan penasaran. 

Lalu kenapa seseorang keluar dari grup WhatsApp?

Ada beberapa alasan yang bisa saya rangkum sebagai berikut:

1. Grup Akan Dibubarkan

Setiap grup dibentuk dengan tujuan tertentu. Ada yang dalam jangka panjang, ada pula jangka pendek.

Sebagai contoh, grup panitia ujian dibentuk pada saat persiapan dan pelaksanaan ujian. Ketika ujian sudah selesai dan panita dibubarkan, para anggota grup WA pun akan keluar beramai-ramai.

2. Bukan Anggota Lagi

Grup WA biasanya berisi sekumpulan orang yang berada dalam komunitas yang sama. Untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi, maka dibentuklah grup WA. Ketika seseorang keluar dari komunitas, maka ia pun keluar dari grup WA.

Misalnya grup dewan guru di sekolah saya. Ketika seseorang sudah pindah mengajar ke tempat lain karena diangkat menjadi CPNS, ia pun berpamitan dan keluar dari grup WA.

3. Memang Bukan Anggota

Ketika grup dibentuk, biasanya admin lah yang memasukkan nama-nama anggotanya. Namun pada keadaan tertentu admin salah memasukkan nama orang lain.

Misalnya salah satu teman saya dimasukkan dalam grup panitia ujian. Padahal dia bukan anggota. Dia pun segera keluar dari grup karena merasa tidak berkepentingan.

4. Terlalu Banyak Grup

Mudahnya membuat grup WA dan mudahnya menambahkan anggota menyebabkan banyaknya jumlah grup WA. Saya pribadi tidak tahu ada berapa jumlah grup WA yang saya ikuti.

Grup WA yang terlalu banyak dan pesan chat yang menumpuk bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Oleh karenanya apabila dirasa ada grup yang kurang penting, maka beberapa orang memilih untuk keluar.

5. Ngambek

Komunikasi tulisan tentu berbeda dengan komunikasi lisan. Apa yang dibaca oleh penerima kadang berbeda dengan maksud sang penulis. Apalagi grup WA yang tidak berhubungan dengan dunia kerja, kadang isinya banyak bercanda.

Salah satu teman saya pernah keluar dari grup alumni karena ngambek. Dia tidak senang dengan becandaan yang dilontarkan oleh beberapa teman yang lain. Alhasil, dia keluar dari grup.

Setiap orang tentu punya alasan untuk keluar dari grup. Meski begitu, jangan sampai silaturrahmi terputus karenanya. Demikianlah berbagai alasan keluar dari grup WhatsApp yang bisa saya pikirkan. Ada yang mau menambahkan?

10 comments

  1. Berhubung saya nggak join satu pun grup WA, jadi nggak begitu bisa tambahkan alasan kenapa ke luar, mba 🙈 however, alasan saya pribadi nggak mau join karena saya nggak begitu mendapat banyak manfaat dari sebuah group, jadi saya merasa nggak perlu hehehe. Saya lebih suka interaksi 1-1 (japri), dan grup yang aktif bisa membuat baterai hape cepat habis 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, hebat juga Mba Eno ngga join satu grup pun👏👏👏. Tempat kerja ngga pake grup gitu?

      Di sekolah tenpat kerja saya, pake grup Mba. Jadi harus lihat grup untuk tahu info terbaru. Undangan rapat aja di share lewat grup 😅

      Delete
    2. Mungkin ada group untuk para staff, tapi saya nggak ikutan mba ~ hehehe, jadi kalau mereka mau kontak saya langsung by call (mungkin mereka nggak mau kalau saya masuk dalam group) :D hahaha.

      Jaman sekarang lebih mudah untuk broadcast sesuatu pakai group yah. Even broadcast undangan pernikahan pun ada yang lewat group, dan efisien katanya. Well, yang terpenting kalau memang dibutuhkan, nggak apa-apa tetap digunakan :3 -- karena tujuan awalnya group dibuat tentunya untuk mempermudah aktivitas. Hehehehehe. Nice post mbaaa <3

      Delete
    3. Wah, ternyata Mba Eno dianggap spesial ya 😂.

      Benar banget, grup memang memudahkan aktivitas. Saya juga sering dapat undangan pernikahan di grup. 😄

      Delete
    4. Mungkin jarang ada staff mau invite atasan masuk ke group mba 😂 bukan karena saya spesial, tapi karena staff takut nggak bisa bebas berbicara kayaknya 😅🤣

      Lebih hemat undang pernikahan pakai group, nggak perlu cetak kertas 😆

      Delete
    5. Benar juga, kalo ada atasan bisa sungkan. Kaya saya yang jarang ikut percakapan. Cuma menyimak aja jika ada pengumuman. 😊

      Tapi malas juga sih ikut grup biasa kalo ngga wajib, hehe 😅

      Delete
  2. Perihal keluar grup karena ngambek ini adalah alasan paling banyak yang terjadi di dunia per-grupan Kak 🤣
    Kalau aku pribadi, biasanya keluar karena aku ngerasa udah nggak relate lagi dengan grup yang dibuat. Misalnya dari awal grup itu untuk diskusi sesuatu, terus setelah acara selesai, grup tidak dibubarkan, malah didiamkan aja dan nggak ada diskusi apa-apa juga setelahnya, maka aku akan tinggalkan.
    Btw, salut sama Kak Eno, bisa nggak join grup sama sekali 😂 bagaimana tipsnya ya? Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baru nemuin satu grup yang anggotanya keluar karena ngambek. Sisanya karena grup yang berhubungan dengan pekerjaan, ngga ada yang ngambek di sana 😅

      Memang banyak grup yang ngga dibubarkan dengan benar, terus begentayangan ngga jelas. Biasanya saya juga pilih keluar.

      Mba Eno memang susah ditiru 😂😂

      Delete
  3. Kalau saya karena merasa grup terkadang sudah jadi gangguan dan kurang ada manfaatnya.

    Saya sekarang cuma masuk dua grup saja.. eh tiga.. grup rumah, yang anggotanya cuma saya, istri dan si Kribo.. hahaha biar kalau saya lagi di luar dan ada yang perlu dibahas, jadi bisa langsung di grup itu..

    Terus grup kantor, sama dengan Nisa, sering komunikasi lebih efisien kalau langsung didiskusikan atau diinfoan ke situ. Cuma itupun hanya ada 9 orang saja. Urusan sama kerjaan..

    Dan grup keluarga mertua, grup keluarga saja dengan keluarga istri saja..

    Selebihnya saya keluar bahkand dari grup alumni kelas.. Karena isinya itu sebenarnya ga ada gunanya sama sekali. Malah jadi gangguan buat saya..

    Ketiga grup itupun ga terlalu aktif. Hanya jika perlu saja baru dibicarakan, terutama grup kantor yang bermanfaat saat wfh begini...

    Jadi, saya tidak mau gabung dengan grup lain... malesssss... kalau dimasukkan tanpa persetujuan, saya langsung out..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiga itu sedikit, Pak. Saya malah ngga terhitung. Grup di tempat kerja ada kalo ngga salah ada lima. Mungkin karena saya kerja dalam lembaga yang jumlah pegawainya banyak banget, jadi ngikut aja dimasukin grup. Biasanya saya cuma ikut menyimak.

      Grup alumni ada beberapa. Mau keluar, nanti orang-orang pada heboh, jadi biarlah.

      Supaya tidak terganggu dengan notifikasi grup, semua saya bisukan notifikasinya. Kecuali grup yang berhubungan dengan pekerjaan. Nanti susah kalo ketinggalan info.

      Delete

Silakan tingggalkan tanggapan dan pendapatmu pada kolom komentar
EmoticonEmoticon