Tahun 2012 adalah pertama kali saya mengenal android. Walau pun saat itu saya belum kenal dengan kata "android" itu sendiri.

Awal mulanya, saya mulai capek membawa laptop kemana-mana untuk bisa online. Maunya beli netbook yang ukurannya kecil supaya mudah dibawa kemana-mana. Kebetulan pernah ngeliat punya teman yang ukurannya imut banget, sekitar 9 inchi doang.


Suatu ketika saya melihat teman sekelas saya menggunakan alat yang ukurannya lebih imut dari pada notebook teman saya yang satunya. Tampilannya tipis dan tidak terlihat adanya keyboard. Hanya layarnya saja. Saya lihat ia menyentuh layar untuk melakukan sesuatu.

Berhubung dia teman sekelas, saya tidak sungkan untuk kepo dan bertanya tentang perangkat yang dia gunakan.

Saya tidak ingat dia menyebutnya sebagai apa. Yang jelas alat tersebut tidak memerlukan keyboard fisik. Untuk menulis, keyboard akan muncul di layar dan cukup disentuh. Agar bisa terkoneksi dengan internet, tidak mesti harus pake wifi. Bisa juga menggunakan SIM card yang terpasang di dalamnya.

Saat itu, bagi saya barang tersebut benar-benar baru. Namun keinginan untuk membelinya belum muncul.

Barulah setelah lulus kuliah dan ingin pulang kampung, saya mulai berpikir lagi untuk membeli perangkat yang lebih nyaman untuk dibawa, mudah untuk menulis.

Laptop Zyrex saya miliki terasa kurang praktis untuk dibawa kemana-mana. Saya ingin perangkat yang lebih kecil namun memiliki fungsi yang serupa. Mudah untuk browsing dan mengetik.

Saya berada pada pilihan antara notebook mini atau tab, nama yang saya dapatkan dari teman saya.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada tab. Alasan utamanya, tab bisa koneksi internet tanpa wifi, mirip seperti HP. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh notebook.

Saya pergi ke pusat elektronik di suatu mall ditemani Ayah kala itu. Beliau mengizinkan saya beli tab dari uang tabungan sisa uang belanja saya selama berbulan-bulan.

Saat di mall saya bingung sendiri mau beli tab seperti apa. Saya cuma pernah melihatnya sekali. Maka saya sekalian saja survey di beberapa toko elektronik.

Rupanya tab pun merk nya bermacam-macam. Nama-nama yang disebutkan cukup asing di telinga saya. Sampai saya bertemu dengan merk Samsung. Saya ingat pernah melihat TV merk Samsung. Setidaknya saya pernah mendengar nama ini. Akhirnya saya memilih beli tab merk Samsung.

Samsung Tab yang ditawarkan seharga 3,8 juta. Saya tidak tahu apakah harga tersebut murah atau mahal. Pastinya harganya lebih murah dari pada laptop saya yang harganya hampir 5 juta. Berhubung uangnya cukup, saya putuskan untuk membeli Samsung Galaxy Tab 2 tersebut.

Setelah pulang ke Kalsel, saya jarang membawa tab tersebut ke tempat umum. Biasanya hanya teman sekamar yang tahu saya punya tab. Waktu itu mayoritas dari mereka adalah pengguna Blackberry. Saya sendiri masih setia dengan Nokia Expres Music. 

Teman-teman di kamar suka meminjam tab saya sekedar untuk main dan lainnya. Kayanya asik aja scroll layar atau bermain Fruit Slice. Berhubung teman-teman tak ada yang punya, saya sih asik aja.

Siapa pun boleh meminjam tab tersebut. Selama hanya digunakan di kamar saja. Kalo dibawa pergi, saya repot kalo mau makai.

Pada saat itu, saya merasa tidak ada yang terlalu istimewa dengan Samsung Galaxy Tab tersebut. Sampai salah seorang teman sekantor membawa tab miliknya dengan merk Mito. Saya bilang saja, bahwa saya juga punya Samsung di kamar. Dia bilang bahwa milik saya tersebut adalah merk mahal.

Berikutnya, salah seorang teman sekamar sama membeli HP android merk Samsung. Sedikit demi sedikit makin banyak orang yang bosa membeli android. Semenjak itu teman-teman saya semakin jarang meminjam tab karena sudah punya android sendiri.

Saat itulah saya baru sadar, bahwa saya termasuk orang yang pertama-tama memiliki android di kalangan teman-teman saya. Padahal waktu itu saya sendiri tidak tahu bahwa android adalah barang baru. Belum lagi dengan merk Samsung yang saya beli. Samsung adalah merk pendahulu android dengan kualitas yang diakui.

Padahal saya sendiri waktu membelinya tidak mengerti apa-apa. Memilih merk Samsung pun karena ingat barang elektronik lainnya. 

Setelah sekian tahun, Samsung Galaxy Tab saya pun mulai error. Sempat boot loop dan diservice. Kemudian error lagi. Saat ini sudah saya berikan kepada sepupu saya yang bekerja di tempat service HP.

Sampai sekarang, Samsung Galaxy Tab 2 adalah android termahal yang pernah saya beli. Waktu itu saya hanya tahu cara memerima uang, menabung, dan menghabiskannya.

Saat ini, setelah bekerja, saya tidak tertarik untuk membeli HP android mahal. HP android yang saya gunakan hingga sekarang dibeli dengan harga kurang dari 2 juta rupiah. Bahkan jaringannya belum support 4G. Tapi saya masih bertahan karena HP nya masih bisa digunakan dengan baik.

Bukannya tak ada uang untuk beli yang baru. Tapi saya hanya merasa tidak perlu maupun mendesak. Bahkan artikel ini ditulis dengan HP tersebut.

Inilah pengalaman tentang android pertama saya. Bagaimana dengan anda?

Baca Juga